Salman Al-Farisi mengisahkan tentang dirinya:
"Aku berasal dari Isfahan, warga suatu desa yang bernama "Ji". Bapakku seorang bupati di daerah itu, dan aku merupakan makhluk Allah yang paling disayanginya. Aku membaktikan diri dalam agama Majusi, hingga diserahi tugas sebagai penjaga api, yang bertanggung jawab atas nyalanya dan tidak membiarakannya padam.
Bapakku memiliki sebidang tanah. Pada suatu hari aku disuruhnya ke sana. Dalam perjalanan ke tempat tujuan, aku melewati sebuah gereja milik kaum Nasrani. Kudengar mereka sedang sembahyang, kemudian aku masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan. Aku kagum melihat cara mereka sembahyang dan kataku dalam hati, 'lni lebih baik dari apa yang aku anut selama ini!'
Aku tidak beranjak dari tempat itu sampai matahari terbenam sehingga membatalkan untuk pergi ke tanah milik bapakku dan tidak kembali pulang, hingga bapak mengirim orang untuk menyusulku. Karena agama mereka menarik perhatianku, kutanyakan kepada orang-orang Nasrani dari mana asal usul agama mereka. 'Dari Syiria', ujar mereka.
Ketika aku berhadapan dengan bapakku, kukatakan kepadanya, 'Aku lewat pada suatu kaum yang sedang melakukan upacara sembahyang di gereja. Upacara mereka amat mengagumkanku. Kulihat pula agama mereka lebih baik dari agama kita.'
Aku dan bapakku pun melakukan diskusi, tetapi berakhir dengan dirantainya kakiku dan dipenjarakannya diriku.
Kepada orang-orang Nasrani kukirim berita bawah aku telah menganut agama mereka. Kupinta pula apabila datang rombongan dari Syiria, supaya aku diberi tahu sebelum mereka kembali karena aku akan ikut bersama mereka ke sana. Permintaanku mereka kabulkan, lalu kuputuskan rantai, meloloskan diri dari penjara, dan menggabungkan diri dengan rombongan itu menuju Syiria.
Sesampai di sana kutanyakan seorang ahli dalam agama itu, dijawabnya bahwa ia adalah uskup pemilik gereja. Kemudian aku datang kepadanya dan kuceritakan keadaanku. Akhirnya, tinggallah aku bersamanya sebagai pelayan, melaksanakan ajaran mereka, dan belajar.
Sayang uskup itu orang yang tidak baik beragamanya karena sedekah yang dikumpulkannya dari orang-orang dengan alasan untuk dibagikan, ternyata disimpan untuk dirinya sendiri.
Kemudian uskup itu wafat. Dan mereka mengangkat orang lain sebagai gantinya. Kulihat tak ada seorang pun yang lebih baik beragamanya dari uskup baru ini. Aku pun mencintainya sedemikian rupa sehingga hatiku merasa tak seorang pun yang lebih kucintai sebelum itu daripadanya.
Hingga tatkala ajalnya telah dekat, tanyaku kepadanya, 'Seperti yang Anda maklumi, telah dekat saat berlakunya takdir Allah atas diri Anda. Maka apakah yang harus aku perbuat dan siapakah sebaiknya yang harus aku hubungi?'
'Anakku,' ujarnya, 'tak seorang pun menurut pengetahuanku yang sama langkahnya dengan aku, kecuali seorang pemimpin yang tinggal di Mosul.'
Lalu, takkala ia wafat, aku pun berangkat ke Mosul dan menghubungi pendeta yang disebutkannya itu. Kuceritakan kepadanya pesan dari uskup tadi dan aku tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah.
Kemudian tatkala ajalnya telah dekat pula, kutanyakan kepadanya siapa yang harus kuturuti. Ditunjukkannyalah orang saleh yang tinggal di Nasibin. Aku datang kepadanya dan kuceritakan perihalku, lalu tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah pula.
Tatkala ia hendak meninggal, aku bertanya pula kepadanya. Kemudian aku disuruhnya untuk menghubungi seorang pemimpin yang tinggal di Amuria, suatu kota yang termasuk wilayah Romawi.
Aku berangkat ke sana dan tinggal bersamanya. Sebagai bekal hidup aku beternak sapi dan kambing beberapa ekor.
Akhirnya, dekatlah pula ajalnya dan kutanyakan kepadanya siapa yang harus aku percayai sepeninggalnya. Ujarnya, 'Anakku, tak seorang pun yang kukenal serupa dengan kita keadaannya dan dapat aku percayakan engkau kepadanya.
Namun, sekarang telah dekat datangnya masa kebangkitan seorang nabi yang mengikuti agama Ibrahim secara murni. la nanti akan hijrah ke suatu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak antara dua bidang tanah berbatu-batu hitam.
Seandainya kamu dapat pergi ke sana, temuilah dia. Ia mempunyai tanda-tanda yang jelas dan gamblang, yaitu ia tidak mau makan harta sedekah, sebaliknya, dia bersedia menerima hadiah, dan dipundaknya ada cap kenabian yang jika kau melihatnya, kau akan segera mengenalinya.
Kebetulan pada suatu hari lewatlah suatu rombongan berkendaraan, lalu kutanyakan dari mana mereka datang. Tahulah aku bahwa mereka dari jazirah Arab. Aku pun berkata kepada mereka, 'Maukah kalian membawaku ke negeri kalian dan sebagai imbalannya kuberikan kepada kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini?' Mereka pun menyetujuinya.
Demikianlah mereka membawaku serta dalam perjalanan hingga sampai di suatu negeri yang bernama Wadil Qura. Di sana aku mengalami penganiayaan, mereka menjualku kepada seorang Yahudi.
Ketika tampak olehku banyak pohon kurma, aku berharap kiranya negeri ini yang disebutkan pendeta kepadaku dulu, yakni yang akan menjadi tempat hijrah nabi yang ditunggu. Ternyata dugaanku meleset.
Mulai saat itu aku tinggal bersama orang yang membeliku, hingga pada suatu hari datang seorang Yahudi dari Bani Quraizhah yang membeliku darinya. Aku dibawanya ke Medinah dan demi Allah baru saja kulihat negeri itu, aku pun yakin itulah negeri yang disebutkan dulu.
Aku tinggal bersama Yahudi itu dan bekerja di perkebunan kurma milik Bani Quraizhah, hingga datang saat dibangkitkannya Rasulullah saw. yang datang ke Medinah dan singgah di Bani 'Amr bin 'Auf di Quba.
Pada suatu hari ketika aku berada di puncak pohon kurma, sedangkan majikanku sedang duduk di bawahnya, tiba-tiba datang seorang Yahudi saudara sepupunya yang berkata, 'Bani Qilah celaka! Mereka berkerumun mengelilingi seorang lelaki di Quba yang datang dari Mekah dan mengaku sebagai Nabi!'
Demi Allah, baru saja ia mengucapkan kata-kata itu, tubuhku pun bergetar keras hingga pohon kurma itu bagai berguncang dan hampir saja aku jatuh menimpa majikanku. Aku segera turun dan aku bertanya kepada orang tadi, 'Apa kata Anda? Ada berita apa?'
Bukan jawaban yang aku terima, melainkan pukulan telak dari majikanku seraya berkata, 'Apa urusanmu dengan ini?! Ayo, kembali bekerja!'
Setelah hari petang, kukumpulkan semua yang ada padaku, lalu keluar dan pergi menemui Rasulullah saw. di Quba. Aku masuk menemuinya ketika beliau sedang duduk bersama beberapa orang anggota rombongan.
Lalu, kataku kepada mereka, 'Tuan-tuan adalah perantau yang sedang dalam kebutuhan. Kebetulan aku mempunyai persediaan makanan yang telah kujanjikan untuk sedekah. Dan setelah mendengar keadaan tuan-tuan, menurut hematku, tuan-tuanlah yang lebih layak menerimanya, dan makanan itu kubawa ke sini,' kataku sambil menghidangkan makanan di hadapan beliau.
'Makanlah dengan nama Allah!' sabda Rasulullah saw kepada para sahabatnya, tetapi beliau tidak sedikit pun mengulurkan tangannya untuk menjamah makanan itu.
Demi Allah, kataku dalam hati, inilah salah satu dari tanda-tandanya, yaitu ia tidak mau memakan harta sedekah.
Aku kembali pulang, tetapi keesokan harinya pagi-pagi aku kembali menemui Rasulullah saw sambil membawa makanan. Aku berkata kepadanya, 'Kulihat Tuan tidak ingin makan makanan sedekah, tetapi aku mempunyai sesuatu yang ingin kuserahkan kepada Tuan sebagai hadiah' sambil kutaruh makanan di hadapannya.
Kemudian kepada para sahabatnya bersabda, 'Makanlah dengan menyebut nama Allah!'
Beliau pun turut makan bersama para sahabatnya. Demi Allah, inilah tanda yang kedua, yaitu ia bersedia menerima hadiah.
Aku kembali pulang dan tinggal di tempatku beberapa lama. Kemudian aku pergi mencari Rasulullah saw. dan kutemui beliau di Bapi' sedang mengiringkan jenazah dan dikelilingi oleh para sahabatnya. la memakai dua lembar kain lebar, yang satu dipakainya untuk sarung dan satu lagi sebagai baju.
Kuucapkan salam kepadanya dan kutolehkan padanganku hendak melihat tanda di pundaknya. Rupanya ia mengerti maksudku, lalu disingkapkanlah kain burdahnya dari lehernya dan tampaklah tanda yang kucari di pundaknya, yaitu cap kenabian sebagaimana yang disebutkan oleh pendeta dulu.
Melihat itu aku meratap dan menciuminya sambil menangis. Lalu, aku dipanggil menghadap oleh beliau. Aku duduk di hadapannya, lalu aku ceritakan kisahku kepadanya.
Akhirnya, aku pun masuk Islam, tetapi perbudakan menjadi penghalang bagiku untuk menyertai Perang Badar dan Uhud. Kemudian pada suatu hari Rasulullah saw. memerintahkan kepadaku, 'Mintalah kepada majikanmu agar ia bersedia membebaskanmu dengan menerima uang tebusan!'
Aku turuti perintah beliau dan para sahabat diperintahkan untuk membantuku dalam soal keuangan.
Akhirnya, aku dimerdekakan oleh Allah SWT dan hidup sebagai seorang muslim yang bebas merdeka. Aku pun menjadi bagian bersama Rasulullah dalam Perang Khandaq dan peperangan lainnya."
Sepenuhnya waktu yang tersisa, jumlah dan apapun yang akan terjadi di dalamnya adalah misteri, sampai saat semuanya terjadi.
Waktu selalu berjalan, maka engkau teruslah melangkah....
Seorang hamba tidak akan mati sehingga telah sempurna rizki dan umurnya. Maka janganlah kecewa bila rizki yang engkau dapatkan hari ini belum sesuai dengan yang engkau inginkan, karena barangkali itu akan menjadi bagianmu di esok hari. Dan bila telah sempurna rizki dan umurmu hari ini berarti tak ada lagi bagimu hari esok...
Jumat, 22 April 2011
Rabu, 02 Maret 2011
When the time moves faster
| By Imran Nazar Hosain |
Saturday, 27 Rajab 1428 A mong the Signs of the Last Day as disclosed by Prophet Muhammad (peace and blessings of Allah be upon him) is that “time would move faster - so that a whole year would pass like a month, a month would pass like a week, a week like a day, a day like an hour, and an hour like the amount of time it takes to kindle a fire.” Why so? He explained that the perception of time moving faster would be in consequence of the ‘remembrance’ of Allah Most High (Dhikr) departing from the heart, and a preoccupation with the worldly life (Dunyah) taking exclusive possession of the heart. The consequence of this spiritual vacuum would be that “people would make business agreements with one another and scarcely anyone would fulfill his trust”, and “it would be said that among such and such a tribe there is a trustworthy man. People would remark of how intelligent, excellent and resolute a man he is while (in fact) he would not have as much faith (in Allah) in his heart as a grain of a mustard seed.” The blessed Prophet also warned that such would be a time of great betrayals in which “temptations would be presented to men’s hearts as a reed mat is woven stick by stick, and any heart which is impregnated by them would have a black mark put in it. The result would be that hearts would be of two kinds, one, white like a white stone, which would not be harmed by temptation as long as the heavens and earth endure, and the other, black and dust-colored like a vessel which is upset, incapable of recognizing what is reputable, or rejecting what is disreputable, but being enveloped by its passion.” There can be no doubt whatsoever that this so-called age of ‘progress’ is, indeed, the age when these signs of the Last Day have appeared. This is the age of secularism. Even the state is secular, and so too politics, the economy, education, the market, the media, sports, entertainment, etc. The dining room and the bedroom are today also secularized. Secularism begins by ‘excluding God’, and culminates by ‘denying Him’! How so? When knowledge is secularized it leads to the belief that knowledge comes from only one source, i.e., external observation and rational enquiry. The implication of the adoption of this epistemology is as follows: since this material world is the only world we can ever ‘know’ in this way, it follows that this is the only world that really ‘exists’. Thus it is that secularism leads inevitably to materialism, i.e., the acceptance, for all practical purposes, that there is no reality beyond material reality. And materialism has led, naturally so, to a world of greed, lies, promiscuity, injustice, oppression, godlessness, and great betrayals since the moral foundations of society cannot be sustained without the spiritual heart of religion. And such a world is not bothered in the least with such things as the ‘remembrance’ of Allah Most High. What is ‘remembrance’? When a man visits in his heart the woman that he loves, he shudders as an enchanting fragrance envelops his heart. It happens every time! When he hears her name mentioned, the same thing happens. That is ‘remembrance’! Clearly ‘remembrance’ is only possible when there is true love. And so it is really when love of Allah Most High departs from the heart that ‘time’ moves faster and yet faster. Hence it follows that when sincere love for Allah Most High allows truth (al-Haq) to enter and take possession of the heart, that ‘time’ would surely move slower and yet slower, until that truth (al-Haq) transports us to a ‘timeless’ world. |
Sabtu, 19 Februari 2011
Bertahan dalam masa sulit
Ini adalah artikel favorit yang sering saya baca ulang ketika menghadapi saat-saat sulit dalam perjalanan hidup. Dalam artikel ini dibahas solusi umum bagi kita yang sedang mengalami masa-masa sullit dalam hidup yang disampaikan dengan baik oleh seorang psikolog, Agustine Dwiputri. Baris-baris berikut setelah ini adalah bagian dari artikel yang saya maksudkan, selamat membaca...
**********************************************************************************
Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stres, Steven Covey, pakar Leadership-7 Habits, mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: seberapa berat menurut Anda segelas air ini? Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr. ”Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama Anda memegangnya,” kata Covey. ”Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin Anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat.”
”Jika kita membawa beban kita terus-menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya,” lanjut Covey. ”Yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi.”
Nah, Sdr, dari artikel itu saya ingin mengajak Anda agar kita tidak sepanjang hari terus merasa merana dan memikirkan kesulitan yang sedang kita tanggung. Cobalah meninggalkan beban kita secara periodik agar kita dapat merasa lebih segar, kuat, dan mampu membawanya lagi. Misalnya sebelum tidur tinggalkan dulu beban itu. Apa pun beban yang ada di pundak kita hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi, untuk dipikirkan juga jalan keluarnya.
Mengubah cara pandang
Ada beberapa hal yang dapat Anda lihat sebagai hal positif dan menghibur Anda. Karena belum bekerja tetap, Anda justru bisa menemani dan membantu nenek. Apalagi rumahnya besar, pasti tenaga Anda sangat dibutuhkan, Jadi, sebenarnya keberadaan Anda sangat berarti bagi nenek, dan itu bisa memberi makna mendalam buat Anda, bukan? Anda tetap menjadi manusia yang berguna di mata nenek. Ia pasti mendoakan Anda agar Anda sukses dalam kehidupan nanti.
Cobalah juga untuk melihat orang-orang sekeliling yang lebih pahit dan sulit hidupnya. Misalnya kenalan yang masih muda tapi sakit keras sehingga tak bisa mencari nafkah untuk keluarganya. Artinya, syukurilah bahwa tubuh Anda sehat sampai sekarang sehingga dapat tetap bekerja, berusaha, berpikir jernih, dan berkreasi.
Melangkah ke depan
Kunci utama agar tidak terlarut dalam perasaan negatif yang bisa ”melumpuhkan” kita adalah harus tetap punya harapan, sepahit apa pun hidup selama ini. Dengan kata lain kita perlu memotivasi diri kita agar terus berdaya menghadapi hari esok. Kita juga dapat menyimak beberapa asas sukses dari Skip Ross (1978) agar kita sukses dalam memperoleh dan mempertahankan pekerjaan kita.
1. Asas Tindakan (Lakukan sekarang, jangan menunda).
2. Asas Antusiasme (Curahkan segenap daya-upaya: pikiran, semangat, dan rasa terhadap setiap kegiatan yang dilakukan).
3. Asas Disiplin Diri (Lakukan apa yang seharusnya dilakukan, terlepas dari senang atau tidaknya melakukan pekerjaan itu).
4. Asas Kegigihan (Lakukan terus-menerus sesuatu sampai tuntas walaupun menghadapi berbagai rintangan, kendala, dan penolakan. Contohnya adalah Kolonel Sanders yang punya resep ayam goreng yang terkenal di seluruh dunia. Ia mengalami penolakan sampai 1.008 kali sebelum akhirnya berhasil diterima di sebuah restoran).
Jadi pantanglah menyerah. Sambil merawat nenek, teruslah mengirim lamaran kerja atau menerima les privat secara santai, sesuaikan dengan waktu sisa Anda setelah mengurus nenek dan rumahnya. Atau Anda juga dapat menciptakan pekerjaan baru, yang mungkin sama sekali berbeda dengan pengalaman mengajar selama ini.
Jangan lupa untuk terus-meneruslah berdoa karena menurut Paul Arden (2007), jika kita berdoa dengan tekun dan sabar untuk satu hal, kita sering kali memperoleh apa yang kita inginkan. Namun, jika kita mendoakan banyak hal sepintas lalu, doa kita tak akan terkabul, karena kita tak sungguh-sungguh menginginkannya.
Salam sukses.
Agustine Dwiputri, Psikolog
**********************************************************************************
Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stres, Steven Covey, pakar Leadership-7 Habits, mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: seberapa berat menurut Anda segelas air ini? Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr. ”Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama Anda memegangnya,” kata Covey. ”Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin Anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat.”
”Jika kita membawa beban kita terus-menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya,” lanjut Covey. ”Yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi.”
Nah, Sdr, dari artikel itu saya ingin mengajak Anda agar kita tidak sepanjang hari terus merasa merana dan memikirkan kesulitan yang sedang kita tanggung. Cobalah meninggalkan beban kita secara periodik agar kita dapat merasa lebih segar, kuat, dan mampu membawanya lagi. Misalnya sebelum tidur tinggalkan dulu beban itu. Apa pun beban yang ada di pundak kita hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi, untuk dipikirkan juga jalan keluarnya.
Mengubah cara pandang
Ada beberapa hal yang dapat Anda lihat sebagai hal positif dan menghibur Anda. Karena belum bekerja tetap, Anda justru bisa menemani dan membantu nenek. Apalagi rumahnya besar, pasti tenaga Anda sangat dibutuhkan, Jadi, sebenarnya keberadaan Anda sangat berarti bagi nenek, dan itu bisa memberi makna mendalam buat Anda, bukan? Anda tetap menjadi manusia yang berguna di mata nenek. Ia pasti mendoakan Anda agar Anda sukses dalam kehidupan nanti.
Cobalah juga untuk melihat orang-orang sekeliling yang lebih pahit dan sulit hidupnya. Misalnya kenalan yang masih muda tapi sakit keras sehingga tak bisa mencari nafkah untuk keluarganya. Artinya, syukurilah bahwa tubuh Anda sehat sampai sekarang sehingga dapat tetap bekerja, berusaha, berpikir jernih, dan berkreasi.
Melangkah ke depan
Kunci utama agar tidak terlarut dalam perasaan negatif yang bisa ”melumpuhkan” kita adalah harus tetap punya harapan, sepahit apa pun hidup selama ini. Dengan kata lain kita perlu memotivasi diri kita agar terus berdaya menghadapi hari esok. Kita juga dapat menyimak beberapa asas sukses dari Skip Ross (1978) agar kita sukses dalam memperoleh dan mempertahankan pekerjaan kita.
1. Asas Tindakan (Lakukan sekarang, jangan menunda).
2. Asas Antusiasme (Curahkan segenap daya-upaya: pikiran, semangat, dan rasa terhadap setiap kegiatan yang dilakukan).
3. Asas Disiplin Diri (Lakukan apa yang seharusnya dilakukan, terlepas dari senang atau tidaknya melakukan pekerjaan itu).
4. Asas Kegigihan (Lakukan terus-menerus sesuatu sampai tuntas walaupun menghadapi berbagai rintangan, kendala, dan penolakan. Contohnya adalah Kolonel Sanders yang punya resep ayam goreng yang terkenal di seluruh dunia. Ia mengalami penolakan sampai 1.008 kali sebelum akhirnya berhasil diterima di sebuah restoran).
Jadi pantanglah menyerah. Sambil merawat nenek, teruslah mengirim lamaran kerja atau menerima les privat secara santai, sesuaikan dengan waktu sisa Anda setelah mengurus nenek dan rumahnya. Atau Anda juga dapat menciptakan pekerjaan baru, yang mungkin sama sekali berbeda dengan pengalaman mengajar selama ini.
Jangan lupa untuk terus-meneruslah berdoa karena menurut Paul Arden (2007), jika kita berdoa dengan tekun dan sabar untuk satu hal, kita sering kali memperoleh apa yang kita inginkan. Namun, jika kita mendoakan banyak hal sepintas lalu, doa kita tak akan terkabul, karena kita tak sungguh-sungguh menginginkannya.
Salam sukses.
Agustine Dwiputri, Psikolog
Rabu, 16 Februari 2011
Perkenalan
Assalamualaikum,
Segala pujian milik Alloh robb semesta alam, sholawat dan salam untuk Nabiyulloh Muhammad sholallohualaihiwasalam, yang darinya kita mendapat petunjuk terbaik untuk meniti jalan hidup menuju Alloh ta'ala.
Melalui media blog ini saya ingin berbagi, tentang hal apa saja atau sekedar cerita pengalaman pribadi atau orang lain atau hal-hal lain yang ada manfaatnya. Sebagai seorang pembelajar saya menyadari masih banyak hal yang belum saya ketehui, tentu hal itu akan menjadikan tulisan-tulisan dalam blog ini berkemungkinan akan ada hal yang kurang pas atau salah. Tentu dengan kesadaran itu saya mengharap masukan ataupun kritik saran, untuk meluruskan pandangan saya yang mungkin saja keliru.
Sepertinya ini saja sebagai pembuka blog ini, sekaligus posting pertama saya...
Hidup ini adalah perjalanan, melewati satu jalan yang tak pernah kita tahu sebelumnya dan tak pernah kembali lagi...
Segala pujian milik Alloh robb semesta alam, sholawat dan salam untuk Nabiyulloh Muhammad sholallohualaihiwasalam, yang darinya kita mendapat petunjuk terbaik untuk meniti jalan hidup menuju Alloh ta'ala.
Melalui media blog ini saya ingin berbagi, tentang hal apa saja atau sekedar cerita pengalaman pribadi atau orang lain atau hal-hal lain yang ada manfaatnya. Sebagai seorang pembelajar saya menyadari masih banyak hal yang belum saya ketehui, tentu hal itu akan menjadikan tulisan-tulisan dalam blog ini berkemungkinan akan ada hal yang kurang pas atau salah. Tentu dengan kesadaran itu saya mengharap masukan ataupun kritik saran, untuk meluruskan pandangan saya yang mungkin saja keliru.
Sepertinya ini saja sebagai pembuka blog ini, sekaligus posting pertama saya...
Hidup ini adalah perjalanan, melewati satu jalan yang tak pernah kita tahu sebelumnya dan tak pernah kembali lagi...
Langganan:
Postingan (Atom)